Intan Pratiwi dalam tulisqnnya padas koran Republika tgl 14 Januari 2019 mengemukakan bahwa produki garam dalam negeri pada tahun ini diproyeksikan mencapai 2,3 juta ton bahkan bila cuaca bersahabat bisa mencapai lebih. Ketua Asosiasi Petambak Garam Nasional Achmad Solechan perkiraan produksi petani garam sebanyak 2 juta ton sedang kebutuhan nasional 3,5 juta ton.Meskipun demikian kata Solechan selisih antara pasokan dan kebutuhan itu sering menjadi celah permainan impor yang berakibat produksi petani garam tidak terserap. Alasan lain sebagai dalih bahwa kualitas prioduksi garam petani itu tidak sesuai dengan spesifikasi industri.
Dari kasus ini yang telah berlangsung cukup lama hendaknya pemerintah yang salah satu visinya itu untuk mandiri dalam ekonomi dalam kondisi sumberdaya alam kita yang sangat melimpah agar warga negaranya yang berprofesi sebagai petani garam hidup makmur hendaknya melakukan langkah2 kongkrit bagaimana agar jumlah dan kualitas produksi garam kita dapat ditingkatkan.
Kendala yang kita hadapi itu hanya dua :
1. Kendalam alam atau cuaca.
2. Kendalan teknologi.
Keduanya sesungguhnya dapat ditanggulangi asal kita mau melakukannya.
Kendala alam atau cuaca bukan hanya menimpa negara kita saja tetapi juga pada petani garam negara lain. Mengapa mereka dapat menanggunlanginya sedang kita tidak dapat. Saranku kerahkan ahli-ahli kita dari berbagai Perguruan Tinggi Indonesia agar dapat membuat pertanian garam yang bebas pengaruh cuaca. Aku kira pasti mereka mampu asal diminta dan diberi biaya untuk melakukan penelitian dan percobaan.
Masalah kedua tentang kualitas produksi garam petani, aku sering dengar katanya tidak mengandung yodium atau spesifikasinya tidak memenuhi tuntutan industry. Pertyanyaanku apa sesulit itu teknologi menambah komponen yodium itu ? Apakah biaya untuk mengembangkan teknologi itu begitu besar sehingga pemerintah tak mampu menyediakannya ?
Perkiraanku masalah utamanya bukan masalah ketiadaan ahli dan ketiadaan biaya mungkin semangat mandiri itulah yang kurang ada pada kita. Memang impor sangat mudah dan bagi pengusaha dan oknum penguasa sangatlah neunguntungkan tatapi bagi negara dan bangsa sangat merugikan. Mengapa ?
1.Rasa harga diri kita sebagai negara pertanian dengan lahan pertanian yang begitu luas sangat rendah. Indonesia itu harusnya jadi negara pengekspor produk2 pertanian bukan pengimpor produk2 pertanian.
2.Karena skema impor yang terus menerus semangat bertani para petani kita akan turun, kesempatan kerja di sektor pertanian juga akan turun akibatnya pengangguran di sector pertanian akan meningkat dan tentu saja akan berdampak pada tingkat kesejahteraan petani kita juga akan menurun.
Dalam kehidupan perusahaan yang paling diharapkan itu adalah luasnya pasar dan tingginya Permintaan (Demand). Permintaan garam itu cukup tinggi sedang sumberdaya produksinya juga di dalam negeri sangat melimpah harusnya kita itu sangat bersungguh-sungguh menggarapnya karena pasarnya sudah tersedia dekat lagi di dalam negeri mengapa harus impor . Jangan-jangan seperti dikatakan Rocky Gerung kita itu dungu.
Aku berpendapat produksi pangan lainnyapun seperti beras, jagung, kedele, buah-buahan bahkan dagingpun kita tidak usaha impor asal kita mau bersungguh-sungguh mengusahakannya. Kuncinya adalah kemauan dan rasa harga diri sebagai bangsa besar.
No comments:
Post a Comment