Sumber kebahagiaan itu ada dua yaitu :
1.Faktor-faktor Eksternal.
2.Faktor-faktor Internal.
Kebanyakan orang menganggap bahwa kebahagiaan itu ditentukan oleh faktor2 eksternal yaitu hal2 yang ada di luar dirinya sendiri yang umumnya bersifat material misalnya faktor : Fisik yang sehat bertenaga, Penghasilan bulanan, kendaraan yang dimilki, rumah yang ditempati, jabatan yang sedang dipegang , tempat yang sejuk dll. Makin kondisinya lebih baik, atau lebih besar atau lebih tinggi maka dianggap secara linier akan menambah kebahagiaan. Sebaliknya ada yang beranggapan bahwa yang paling menentukan itu bukan faktor2 aksternal tetapi faktor2 Internal atau psikologis seperti faktor tingkat ketaatan beragama, sikap syukur atas apa yang diterima pada saat itu, sikap sabar dalam menghadapi masalah atau musibah yang menimpa. Ada juga yang berpendapat bahwa faktor yang paling menentukan itu adalah faktor akal atau rasio dalam pengertian penggunaan faktor rasio secara optimal sehingga dia dapat dengan mudah menganalisa masalah yang dihadapi dan mencari jalan keluar dari setiap permasalahan tersebut.Sesungguhnya kita tidak dapat menetapkan secara fasti bahwa hanya faktor khusus itu yang menentukan kebahagiaan sebab faktor yang mempengaruhi kebahagiaan itu sangat luas. Masalah2 yang membutuhkan kehadiran faktor fisik seperti biaya kuliah anak, biaya pengobatan tidak dapat ditanggulangi hanya dengan berdoa saja. Demikian pula masalah2 hubungan rumah tangga atau kekeluargaan atau masalah rasa cinta tak dapat hanya ditanggulangi dengan melimpahnya uang atau jabatan tinggi.
DR. Tawfik A.Al Kusayer dalam bukunya Seni Menikmati Hidupmengemukakan akan adanya tiga faktor yang dia sebut unsur penentu kebahagiaan yaitu : Tubuh, Akal dan Ruh.
1. Tubuh adalah unsur hewani yang mendorong seseorang untuk mencintai kehidupan terkait kebutuhan : pangan, sandang, papan dan instink untuk memiliki atau menguasai.
2. Unsur atau kekuatan akal adalah kekuatan yang mendorong seseorang untuk merenung dan berpikir dengan melakukan perhitungan logis dan analogis sehingga masalah2 dapat ditanggulangi dan akhuirnya kebahagiaan dapat dicapai.
3. Kekuatan Ruh (emosional) adalah kekuatan seseorang untuk mencapai ketinggian dan keluhuraan mencintai sifat2 keluhuran seperti : kedermawnan ,pengorbanan, keadilan dan mencintai amal2
kebaikan.
Bila ketiga unsur kekuatan itu digunakan secara seimbang maka kebahagiaan akan dapat diraih. Seseorang tidak dapat mencapai kebahagiaan hanya dengan menggunakan satu atau dua unsur saja ketiga-tiganya harus digunakan dan itupun hendaknya seimbang.
Umat islam memiliki formula yang lebih sederhana :Seseorang akan bahagia apabila menggunakan Formula Sabar dan Syukur. Hidup itu merupakan perjalanan tanpa henti (selama masih hidup di dunia) melalui jalan yang tidak pernah selalu datar kadang2 naik, tidak selalu jalan baik /licin tetapi kadang2 ada jalan berlubang, tidak akan selamanya jalanl urus kadang2 ada belokan, tidak semalanya dalam keadaan cuaca baik kadang2 terjadi hujan lebat disertai halilintar yang mengganggu perkjalanan kita. Jalan yang rata, lurus,licin, cuaca baik itu gambaran kita sedang dikaruniai Allah kenikmatan, saat itu kita harus bersyukur dan mereka yang bersyukur pada saar itu maka Allah akan melimpahkan nikmat yang lebih besar lagi itulah kebahagiaan. Sebaliknya pada saat kita menghadapai situasi yang kurang baik atau kurang menguntungkan maka senjata ampuh yang harus kita gunakan agar kita tetap bahagia yaitu dengan menggunakan senjata Sabar.
Kasimpulannya, bahagia itu sesungguhnya dapat diraih oleh setiap orang asal orang itu mau menggunakan potensi dirinya dengan baik yaitu potensi fisik, akal dan ruh. Ketiganya karunia Allah bagi kita, gunakanlah secara seimbang. Kita juga akan selalu merasa bahagia selama kita mau menggunakan senjata pamungkas kebahagiaan yaitu sifat Sabar dan Syukur. Syukuri setiap nikmat yang kita peroleh dan Berabarlah bila kita menghadapi tantangan atau musibah yang menimpa kita. Ni’mat Allah yang diberikan kepada kita itu tak terhitung banyaknya tetapi sebahagian kita tidak atau kurang mensyukurinya sebab kita fokus kepada yang pada saat itu tidak ada pada kita. Silahkan hitung berapa nilainya beragam nikmat yang kita miliki terkait dengan potensi fisik kita; dengan panca indera yang kita miliki, dengan potensi akal kita dan potensi emosional serta spiritual yang kita peroleh. Pada saat semua itu berfungsi dengan baik umumnya kita tidak pernah mensyukurinya dan berterima kasih kepada yang telah memberikannya kepada kita ; baru bila salah satu terganggu atau sakit kita menyadari betapa besarnya nilai mata, telinga, mulut, gigi, lidah, rambut dll. Allah dalam Firmannya pada Q.Surat Arachman sampai 33 kali menyebutkan :”Nikmat mana lagi yang kamu dustakan”. Betul karena kita mendustakan nikmat yang diberikan Allah maka yang menderita itu kita sendiri.Mendustakan nikmat itu artinya nikmat yang diberikan Allah itu tidak kita syukuri bahkan kita kufuri. Contoh kita diberi akal tidak digunakan untuk memikirkan kebaikan tetapi justru digunakan untuk menipu atau merugikan orang lain. Kita diberikan fisik yang kuat tetapi tidak digunakan untuk mengerjakan yang bermanfaat tetapi digunakan untuk menyakiti orang lain. Kita diberi kemampuan bicara tidak digunakan untuk bicara santun atau mengajarkan ilmu bermanfaat tetapi digunakan untuk menyampaikan berita2 bohong atau mengajarkan ilmu untuk merusak kehidupan.
Mari kita nikmati perjalanan hidup yang sebentar ini dengan selalu bersyukur atas segala nikmat yang kita peroleh dan Bersabar bila tantangan atau musibah menimpa dan jangan lupa tugas kita di dunia itu adalah untuk Beribadah yaitu mengabdi kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia.